Ada yang Lebih Berat Ujiannya Daripada Kamu

Daftar Isi

Ada yang Lebih Berat Ujiannya Daripada Kamu
Ada yang Lebih Berat Ujiannya Daripada Kamu

Kemarin pagi, saya dan beberapa kawan dikejutkan dengan kabar kematian kakak kelas semasa belajar di aliyah. Menurut pengakuan beberapa kawan, beliau terkena penyakit Lupus.

Beberapa waktu sebelumnya, anak beliau meninggal dunia. Saya kaget sekaligus tersayat hati mendengar kabar ini. Melihat bagaimana Allah menguji hamba-Nya. Saya yakin semua ini sudah ditentukan batas dan kemampuan untuk menghadapinya.

Saya seketika teringat ceramah Ustaz Hanan Attaki dua malam yang lalu bahwa setiap orang hendaknya terus bersyukur. Mengapa? Sebab ujian yang diterimanya belum seberapa. Selalu ada orang yang mendapat cobaan lebih berat daripada apa yang menimpa kita saat ini.

Saya juga teringat dengan ceramah Ustaz Khalid Basalamah yang menyatakan bahwa ada seorang sahabat bernama Urwah bin Zubair. Beliau diuji dengan kematian anaknya ketika menghadap raja, lalu setelahnya kaki beliau harus diamputasi karena terkena penyakit yang satu-satunya cara menyembuhkannya adalah dengan dipotong.

Saat akan dipotong, sang dokter berkata bahwa Urwah harus dibius dengan khamr, tetapi beliau menolak. Beliau berzikir dan memohon kepada dokter untuk memotong kakinya ketika wajahnya terlihat memerah. Setelah berhasil dipotong, sang dokter berkata bahwa tahap selanjutnya adalah meletakkan bekas luka di atas minyak yang mendidih. Beliau mengiyakan sambil terus berzikir. Beliau sempat menyatakan bahwa sepanjang hidup insyaallah kakinya tidak pernah melangkah ke tempat maksiat.

Setelah rentetan ujian tersebut, beliau menyatakan,

“Allah mengambil satu putraku dan menyisakan dua putriku. Allah ambil kakiku dan menyisakan anggota tubuh lainnya. Allah Maha Baik. Allah mengambil yang sedikit dan meninggalkan yang banyak. Sudah semestinya aku tetap bersyukur.”

Urwah bin Zubair

Subhanallah. Berkaca dari berbagai kejadian dan kisah yang saya dengar, mari bermuhasabah, mari menghitung diri, seberapa bersyukur kita hari ini. Sudahkah syukur kita semakin meningkatkan ketaatan kepada Allah? Semoga menjadi renungan kita bersama bahwa ungkapan di atas langit masih ada langit benar adanya. Tidak hanya dalam konteks kepandaian atau kekayaan, tetapi juga perihal ujian dalam kehidupan.