Haruskah Diuji Terlebih Dahulu Baru Sadar?

Haruskah Diuji Terlebih Dahulu Baru Sadar?
Haruskah Diuji Terlebih Dahulu Baru Sadar?
Haruskah Diuji Terlebih Dahulu Baru Sadar?

Beberapa waktu terakhir, saya mencoba merenungkan perihal kesadaran. Kesadaran dalam banyak hal. Sadar akan kehidupan, sadar akan realita, dan kesadaran-kesadaran lain.

Secara sederhana sadar adalah keadaan ketika seseorang insaf, paham, mengerti tentang suatu hal. Namun, coba kita tengok pada keseharian. Betapa banyak kita lalai dan tidak sadar akan banyak hal dalam hidup. Beberapa kali kita dibuai oleh nafsu yang sebenarnya secara sadar kita tahu bahwa itu hal-hal yang harus kita hindari dan jauhi, tetapi tetap saja kita lakukan. Betul apa betul?

Manusia adalah makluk yang dibekali akal dan nafsu. Harapan dari adanya dua bekal tersebut adalah bahwa segala hal yang menjadi keputusan dalam hidup melalui pertimbangan keduanya. Oh ya, jangan lupakan juga hati yang pasti turut serta menentukan keputusan yang seharusnya diambil.

Nyatanya, kita masih saja lalai. Berkali-kali Tuhan mengingatkan melalui firman-Nya, para ustaz mengingatkan melalui mimbar dengan ceramah yang berbobot, keluarga dan teman menasihati tiada henti. Namun, rasa-rasanya kita lebih sering menjadi insan bebal yang tak dapat diketuk hanya melalui isyarat dan begitu banyak peringatan yang ada.

Saya jadi teringat satu mahfuzat yang menyatakan bahwa manusia cukup diingatkan dengan isyarat, tetapi hewan perlu dipukul agar terus ingat. Nah, di sini terlihat bahwa manusia menjadi tinggi derajatnya, dimuliakan kedudukannya di antara makhluk lain dengan keistimewaan ini. Sayang sekali manusia sering lupa dan harus dipukul dahulu baru sadar diri.

Kita perhatikan sekitar. Betapa banyak peringatan melalui cobaan, musibah, bencana di mana-mana mengingatkan manusia agar sadar diri. Sadar bahwa ada hal yang keliru dalam mengelola buminya. Ada hal yang salah dalam membawa diri. Ada yang salah dalam memakmurkan dan menjalankan fungsi pemakmur muka bumi ini.

Baca Juga  Ketika Kekecewaan Memenangkan Segalanya

Sebelum segala derita dan bencana hadir di depan mata, kita seolah gelap mata. Menganggap segala hal berjalan baik-baik saja. Kita hanya tidak sadar dan sedang terlena dengan kemegahan dunia, dibuai nafsu tak berkesudahan, diburu waktu dengan segudang kesibukan yang tak ada habisnya. Ya, kita sesungguhnya diliputi ketidakberkahan ketika semua itu telah meliputi diri.

Lantas, apa poin pentingnya? Poinnya adalah mari terus bersama saling mengingatkan bahwa dunia yang sementara dan fana ini adalah persinggahan. Dia adalah tempat menanam segala bibit kebaikan. Tatkala ada kesalahan, segera perbaiki dan sadari agar tak terulang di kemudian hari.

Saya teringat satu hadis yang berbunyi

Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaikbaik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”.

(HR Tirmidzi 2499, Shahih at-Targhib 3139).

Maka, sekali lagi saya mengingatkan kepada diri sendiri juga seluruh pembaca untuk terus sadar diri dengan kehidupan ini. Jangan mudah terlena, jangan mudah terbuai sehingga lupa untuk apa sebenarnya kita hadir di dunia ini.

Keep inspiring through writing!

Related posts