Ibu Butuh Bukti, bukan Sekadar Ucapan Seremoni

Kemarin, 22 Desember 2020, kita memperingati Hari Ibu. Peringatan tahunan yang biasanya berisi harapan doa, karya tentang ibu dalam berbagai bentuknya. Kita tentu sangat senang melihat semua orang bersuka cita menyambut Hari Ibu.

Sebagai peringatan tahunan, tentu berbagai ucapan, puisi, cerpen, bahkan novel dan film terpampang jelas di depan mata pada hari tersebut. Namun, cukupkah itu semua sebagai bukti bakti nyata kepada seseorang yang kita sebut ibu?

Bagi saya pribadi, hal-hal seperti ucapan dan semacamnya kadang hanyalah seremonial belaka. Sesuatu yang dibuat dan disengaja untuk menyambut hari tersebut. Sama seperti hari lainnya, Hari Kemerdekaan, Hari Ayah, dan lain-lain.

Salahkah hal-hal seremonial tersebut? Kalau dibilang salah, tentu saja tidak. Kita pasti bahagia menyambut dan memperingatinya. Namun, ada banyak hal esensi yang bisa dilakukan di luar ucapan-ucapan tersebut.

Misalnya kita sebagai seorang anak, ketika ibu kita masih hidup, sempatkanlah berkunjung bila diri berada jauh dari rumah. Jenguklah. Ibu kangen. Ibu akan sangat senang dengan kehadiranmu.

Terkadang, ibu tidak perlu kamu belikan ini dan itu, kehadiranmulah yang menjadi obat paling mujarab penghilang rindu. Percayalah akan hal ini. Keharmonisan dan hubungan antar ibu dan anak tidak akan pernah bisa digantikan dengan hal-hal material apa pun.

Bagi yang ibunya sudah tiada, doakanlah. Semoga ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Sambunglah silaturahmi dengan kerabat dan sahabatnya. Tunaikan kewajiban yang belum selesai semasa hidupnya seperti utang dan lain sebagainya.

Kita kadang terjebak pada kata-kata indah yang dilontarkan setahun sekali kepada orang tercinta, terutama ibu. Seolah kita adalah makhluk paling istimewa yang sudah berbakti sepanjang masa.

Nyatanya, semua itu bualan belaka ketika keseharian kita masih diisi dengan ketidakpatuhan kepada Ibu. Disuruh A, masih beralasan ba bi bu. Saya kira hal semacam ini membuat sang ibu jengkel, meskipun tak ditampakkan di hadapanmu secara langsung.

Baca Juga  Lawan Malas Nulis dengan Tips Produktif Menulis⁣⁣

Buktikan bakti nyatamu kepada ibu dengan langkah-langkah nyata yang membuatnya bahagia tak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Patuhi perintahnya, bila tidak sepakat, tolaklah dengan sopan, berdiskusilah dalam hal-hal yang meresahkan hidupmu, sebab itu semua adalah perintah agama yang diwajibkan atasmu.

Bagi muslim, rida orang tua adalah rida Allah, terlebih rida seorang ibu. Maka, jangan pernah sakiti hatinya meskipun hanya lewat perkataan ah, uf, dan semacamnya. Kata-kata tersebut memang singkat, tetapi akan sangat membekas dalam hati seorang ibu. Mari bersama berbenah diri untuk belajar bagaimana memperlakukan ibu dan berbakti kepadanya semaksimal mungkin.

Keep inspiring through writing!

#hariibu #latepost #23122020 #ibu #baktinyata #reminder #selfreminder #motherday

Shares

Muhammad Amin

Seorang pengasuh di Mahad Al Qalam MAN 2 Kota Malang. Suka menulis di blog dan menulis buku. Sesekali menerjemahkan dokumen dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab atau bahasa Inggris.

Mungkin Anda juga menyukai

Hai, ada yang bisa saya bantu?
Hubungi Saya
Hai, ada yang bisa saya bantu?